Evaluasi Penting 5 Tahun Kehadiran LP3KN-LP3KD

Pemukulan gong saat pembukaan Rakernas LP3KN-LP3KD di Pusat Pastoral Samadi, Klender, Jakarta Timur, Jumat 13 Mei 2022. Foto: Humas LP3KN/IST
Jakarta, thehorizon.id
– Rapat kerja Nasional Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani
Katolik Nasional/Daerah (Rakernas LP3KN-LP3KD) diwarnai dengan banyak evaluasi
penting di hari kedua pada Sabtu (14/5/2022).
Para peserta yang terdiri dari perwakilan KWI, LP3KN, LP3KD,
Pembimas, dan unsur pemerintah mendapatkan beberapa masukan penting terkait
tema moderasi beragama dari perwakilan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang
diwakili oleh Hartono selaku Fasilitasi Pemeliharaan Keharmonisan dan Kerukunan
Antar Umat Beragama dan Penghayat Kepercayaan Kementerian Dalam Negeri .
Hartono membawakan materi terkait peran masyarakat dalam
mewujudkan moderasi beragama.
Ia mengatakan penguatan moderasi hendaknya diawali dengan
kesadaran akan nilai kemanusiaan. Kesadaran ini, sebut Hartono, telah tertuang
secara lengkap dalam Dasar Negara Pancasila.
“Keberagaman sebagai modal sosial penguatan kerukunan umat
beragama harus mewarnai seluruh elemen kehidupan masyarakat,” ujar Hartono
dalam rilis Humas LP3KN di Jakarta, Selasa (17/5/2022).
Dalam materinya, Hartono lebih banyak menunjukkan situasi
konkret moderasi beragama yang baginya kerap diwarnai aksi-aksi intoleransi dan
kekerasan. Melihat situasi ini, ia mendukung program pemerintah pusat dan
daerah terkait penguatan kerukunan antar umat beragama dan mendorong anggaran
kegiatan keagamaan agar lahirnya banyak program penguatan moderasi.
Di tempat yan sama, pemateri kedua tampil dengan tema, “Quo
Vadis LP3KN dan LP3KD,” yang dibawakan oleh Kasianus Telaumbanua Ketua LP3KD
Jambi dan Sekretaris Eksekutif KWI Romo Hans Jeharut.
Dalam pematerinya, Kasianus menunjukkan persoalan klasik
dalam Pesparani yaitu kurangnya dukungan pemerintah dalam hal anggaran dan
kurangnya dukungan dari hirarki.
“Ada kepala daerah yang tidak mendukung LP3KD dalam hal
anggaran. Banyak LP3KD tertatih-tatih mendapatkan dana untuk ikut Pesparani,”
tegasnya sambil melanjutkan,
“Sementara, ada pastor yang menganggap LP3KN-LP3KD adalah
semacam Ormas tapi kok mengurus musik liturgi.”
Atas pengalaman ini, Kasianus mengusulkan agar LP3KD harus
terbuka dan bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk unsur pemerintah agar
tidak terkesan orang Katolik jago kandang dan hanya berusaha mencari aman.
“Kita harus melebur dengan tokoh masyarakat dan keluar dari internal Gereja dan
bangun komunikasi dengan pemerintah,” imbuhnya.
Banyak PR
Sementara itu, Romo Hans memberi kritik terhadap Pesparani.
Ia menegaskan 5 tahun perkembangan LP3KN-LP3KD secara garis besar bekerja baik
tetapi masih banyak pekerjaan rumah. Peran awam masih terasa kurang dalam hal
membangun relasi dengan pemerintah.
Romo Hans setuju bahwa persoalan utama setiap LP3KD adalah
pendanaan. Menurutnya komunikasi dan keterbukaan diri kepada pemerintah adalah
kunci utama dalam mendapatkan dukungan anggaran.
“Orang Katolik adalah warga masyarakat Indonesia yang memiki
hak yang sama dengan warga masyarakat lainnya. Maka rasa keadilan juga harus
dirasakan semua warga negara. Orang Katolik jangan trauma dengan agama lain
tetapi perlu terbuka agar bisa mendapatkan keadilan yang diharapkan,” tuturnya.

